Wacana Sekolah Tatap Muka, 5 Tips Dokter Anak Aman dari COVID-19

Wacana Sekolah Tatap Muka, 5 Tips Dokter Anak Aman dari COVID-19


VIVA – Sejak Pandemi COVID-19 merebak, hampir semua negara menutup sekolah dan memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Namun, beberapa negara telah mulai memberikan kelonggaran berupa pembukaan sekolah, khususnya di zona hijau.

Di satu sisi, sekolah tatap muka memang metode belajar paling ideal namun tentu masih ada risiko penularan COVID-19 di sekolah. Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Tuty Mariana, SpA,  mengatakan bahwa hingga saat ini, belum diketahui pasti risiko infeksi virus SARS-CoV-2 pada anak-anak.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dari jumlah total penderita COVID-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Angka kematiannya pun lebih sedikit dan biasanya gejalanya lebih ringan. Namun tetap ada laporan pasien anak-anak yang kritis.

Risiko penularan di sekolah

Sejumlah penelitian terbatas yang dilakukan oleh sejumlah negara mendapati risiko anak tertular COVID-19 lebih kecil ketimbang orang dewasa. Anak yang diteliti antara lain yang berumur di bawah 18 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun. Namun, berbeda dengan anak usia di bawah 1 tahun, risiko terkena COVID-19 lebih besar.

“Salah satu faktor yang mungkin memengaruhi risiko itu adalah sistem kekebalan anak. Pada anak usia di bawah 1 tahun, sistem kekebalannya masih lemah sehingga lebih rentan tertular COVID-19. Sedangkan anak yang lebih besar sudah sering diserang berbagai virus dan bakteri sehingga daya tahan tubuhnya lebih terlatih. Walau begitu, kemungkinan ini masih butuh penelitian lebih lanjut,” ujar dokter Tuty Mariana, dikutip dari keterangan persnya.

Menurut WHO, peran anak-anak dalam penularan COVID-19 secara umum belum sepenuhnya dipahami. Dokter Tuty menambahkan bahwa hingga saat ini, sejumlah kluster muncul di sekolah-sekolah di berbagai negara karena biasanya gejala pada anak lebih sedikit dan sakitnya tidak terlalu parah, kasus positif kadang tak terdeteksi.

Data studi awal pun menunjukkan tingkat penularan di kalangan remaja lebih tinggi ketimbang pada anak berusia lebih muda.

“Yang pasti, kesadaran anak untuk menerapkan protokol kesehatan secara umum lebih rendah ketimbang orang dewasa. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peran anak-anak dalam penularan COVID-19 di sekolah,” tuturnya.

Haruskah anak dengan kondisi kesehatan tertentu (penyakit komorbid) boleh kembali ke sekolah?

“Keputusan membolehkan anak kembali ke sekolah bergantung pada situasi penularan COVID-19 di lingkungan terkait, kesiapan sekolah dalam memberikan perlindungan, dan kesehatan anak itu sendiri. Bila ada masalah kesehatan yang membuat anak lebih rentan terhadap penularan COVID-19 di sekolah, orang tua sebaiknya memilih pembelajaran jarak jauh dulu,” ujarnya.

Namun, penyakit penyerta pada umumnya tidak ada atau belum muncul pada anak usia sekolah. Komorbid lebih banyak didapati pada orang dewasa, termasuk orang tua siswa. Itu sebabnya keputusan membuka kembali sekolah di tengah pandemi membutuhkan peran serta semua pemangku kepentingan.

Orangtua dan masyarakat umum wajib terus mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan pada anak-anak siswa sekolah. Sebab, anak pun bisa terinfeksi virus di rumah atau di jalan saat perjalanan pergi atau pulang sekolah. 

Berikut ini adalah tips agar anak aman ke sekolah di tengah Pandemi COVID-19 menurut Dokter Spesialis Anak Primaya Evasari Hospital dr. Ria Yoanita, SpA,.

1.Cek kesehatan anak, tetap di rumah jika sakit

Di masa pandemi COVID-19, setidaknya ada termometer untuk mengukur suhu tubuh anak setiap hari. Akan lebih baik lagi jika ada thermo gun yang lebih cepat menampilkan hasil pengukuran suhu tanpa bersentuhan dengan permukaan kulit. Jika suhu tubuh anak di atas batas, batuk, dan sesak napas sebaiknya minta izin untuk tetap di rumah. 

2.Mengajarkan praktik kebersihan untuk anak



Source link

Leave a Reply