Tekan Dampak Resesi, Masyarakat Diminta Beraktivitas Secara Normal

Tekan Dampak Resesi, Masyarakat Diminta Beraktivitas Secara Normal



Liputan6.com, Jakarta – Chief Economics Danareksa Research Institute, Moekti Prasetiani Soejachmoen, meminta masyarakat tetap tenang dalam menyikapi potensi resesi secara teknis di tahun ini. Sebab, terjadinya resesi dinilai bukan merupakan akhir segalanya.

“Di kuartal II kita minus sebesar 5,32 persen dan di kuartal III diperkirakan akan minus walaupun tidak sebesar kuartal II, berarti secara teknis masuk resesi. Namun, kita tidak terlalu terpaku pada kata-kata resesi itu sendiri. Karena resesi itu suatu yang bukan segalanya,” tegas dia dalam webinar bertajuk “Merajut Asa 2021: Vaksin Bikin Makin Yakin”, Kamis (15/10).

Menurutnya, justru di situasi ekonomi sulit akibat pandemi Covid-19 ini masyarakat diimbau tetap tenang. Sehingga dapat melakukan aktivitas ekonomi secara normal.

Diantaranya dengan tetap melakukan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan dari dalam dan luar negeri. Serta tidak menahan kegiatan konsumsi untuk menstimulus faktor permintaan di masa kedaruratan kesehatan ini.

Alhasil, sambung dia, akan mampu mendorong proses percepatan pemulihan ekonomi nasional. Juga mengurangi tingkat kedalaman potensi resesi yang terjadi di Indonesia.

“Jadi, untuk segera keluar dari situasi ini maka kita perlu melakukannya kegiatan ekonomi baik berbelanja maupun produksi. Kalau tidak nanti malah resesi makin dalam karne kita tidak melakukan kegiatan ekonomi,” terangnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 sebesar 0 persen hingga -2 persen. Apabila nantinya ekonomi tercatat negatif maka secara teknik Indonesia masuk zona resesi. Meski demikian, hal ini bukan sesuatu yang sangat buruk.

“Kalau kita lihat aktivitas masyarakat sama sekali belum normal. Oleh karena itu, kalau secara teknik nanti kuartal III ada di zona negatif maka resesi itu terjadi. Namun itu tidak berarti bahwa kondisinya adalah sangat buruk,” ujar Sri Mulyani usai rapat kerja dengan DPR, Jakarta, Senin (7/9).

Sri Mulyani melanjutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik dibanding negara-negara lainnya yang mengalami kontraksi ekonomi hingga negatif 20 persen. Bahkan negara-negara tersebut sudah lebih dulu memasuki zona resesi dibandingkan dengan Indonesia.

“Karena kalau kita lihat, kontraksinya lebih kecil dan menunjukkan adanya pemulihan di bidang konsumsi, investasi melalui dukungan dan belanja pemerintah akselerasi cepat. Dan kita juga berharap ekspor sudah mulai baik, kita lihat satu bulan atau beberapa bulan terakhir terjadi kenaikan yang cukup baik,” paparnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com



Source link

Leave a Reply