Sepenggal Memori Mewujudkan Cita Pemuda

Sepenggal Memori Mewujudkan Cita Pemuda


VIVA –  Beberapa pekan terakhir sedang heboh atas keluarnya surat resmi dari Dinas Pendidikan Bangka Belitung, atas arahannya kepada siswa SMA membaca buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Felix Siauw sebagai rekomendasi buku untuk meningkatkan literasi.

Namun, tidak lama setelah dikeluarkannya surat tersebut, beberapa pihak merasa bahwa hal tersebut keliru karena merekomendasikan buku dari seorang tokoh yang sering dikecam aktivitas dakwahnya di berbagai tempat.

Setelah peristiwa pencabutan itu terjadi, kepala Dinas Pendidikan terkait tidak tahu menahu akan sosok di balik pengarang buku tersebut. Felix Siauw sendiri telah mengeluarkan beberapa postingan di Instagram.

Hal ini terkait kisah perjalanan menuliskan buku Muhammad al faith 1453 sebagai perwujudan karya yang berhak dibaca oleh banyak orang atas kegemilangan cahaya Islam di bawah penaklukan konstantinopel oleh Muhammad Al Fatihtahun 1453.

Pada umumnya dan sebagai sebuah hadiah kepada anak lelakinya, untuk mengenang siapa yang ayahnya idolakan, apa yang ayah-ibunya yakini, dan untuk apa keduanya hidup dan mati pada khususnya.

Melalui fenomena ini tidak sedikit masyarakat yang berkomentar dan menilai, bahwa semakin dilakukan upaya pemberhentian buku ini untuk dibaca apalagi dicetak maka semakin membuat masyarakat penasaran akan isi bukunya.

Apalagi menyangkut sejarah penaklukkan konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih yang saat itu masih berusia 21 tahun dan telah memiliki banyak kemampuan baik berupa penguasaan bahasa, taktik perang, maupun hafalan Alquran.  

Masyarakat yang telah membaca buku ini pun menilai, bahwa isi bukunya cukup menggambarkan dengan jelas akan ketangguhan, kesungguhan seorang pemuda tentang risalah Rasulullah sallallahu alaihi wassalam.

Buku ini cukup rapi untuk menjelaskan sejarah perjuangan kepada para pemuda bangsa dan generasi muslim, mengingat bulan Oktober sebagai bulan perjuangan lahirnya sumpah pemuda yang jatuh pada 28 oktober mendatang.

Maka penting untuk merefleksikan diri akan kisah perjuangan para pemuda yang masih belia namun memiliki visi yang melampaui dunia. Semangat pemuda sulit untuk padam, apalagi menyinggung kemerdekaan yang hari ini dinilai membingungkan akibat salah satunya buta dalam melihat sejarah dan rendahnya literasi akan penggalian sejarah.

Untuk itu, perlu upaya serius dalam menggali sejarah dan meningkatkan literasi, dengan tetap memantau arus keluarnya masuknya buku atau kitab yang benar-benar mengantarkan pemuda pada pemikiran yang jernih.

Di dalam Islam, peredaran dan pembacaan buku di kalangan pemuda adalah aktivitas yang penting sehingga negara mengontrolnya agar tetap sesuai koridor syariat dan jauh dari pemahaman yang merusak.



Source link

Leave a Reply