Penyaluran PEN Lambat Jadi Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Belum Bangkit

Penyaluran PEN Lambat Jadi Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Belum Bangkit



Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy), dengan kata lain Indonesia resesi.

Ekonom sekaligus Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra el Talattov mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 minus 3,49 disebabkan efektivitas stimulus fiskal PEN tidak dieksekusi dengan cepat, sehingga kontraksi konsumsi rumah tangga tinggi.

“Kalau kita melihat dari data kuartal III itu faktor utamanya daya beli yang masih sangat lemah, konsumsi rumah tangganya terkontraksi minus 4 persen, dan kuartal II minus 5,5 persen. Jadi hanya berkurang 1,5 persen kontraksinya,” kata Abra kepada Liputan6.com, Kamis (5/11/2020).

Padahal di kuartal III pemerintah sudah jor-joran mengalokasikan stimulus fiskal. Anggarannya sudah dialokasikan cukup besar, yaitu Rp 695,20 triliun. Tap,i kata Abra, stimulus tersebut tidak cukup membantu memperbaiki konsumsi rumah tangga.

“Nah ini salah satu kritik krusialnya, konsumsi rumah tangga kontraksinya masih tinggi, karena ternyata efektivitas stimulus fiskal itu tidak bisa dieksekusi dengan cepat, lantaran realisasi stimulus PEN baru 52 persen sampai 28 Oktober 2020 kemarin,” katanya.

Menurutnya, itulah yang menjadi penyebab utama kenapa konsumsi rumah tangga Indonesia tidak cukup pulih dengan cepat di kuartal III. Selain itu, kontraksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang masih turun.

“Kepercayaan atau confidence konsumen untuk berbelanja dan membelanjakan uangnya masih sangat rendah. Karena berkaitan kasus covid-19 yang masih tinggi di Indonesia, jadi ada kecenderungan masyarakat kelas menengah ke atas mereka notabennya memiliki pendapatan itu enggan untuk berbelanja seperti kondisi normal,” jelasnya.

Akibatnya konsumsi rumah tangga masih terhambat, dan juga terefleksi dari data pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan. Per September 2020 DPK tumbuh hampir 12,8 persen atau double digit.

Hal ini membuktikan semua masyarakat berbondong-bondong memilih untuk menabung dibandingkan membelanjakan uangnya untuk konsumsi rumah tangga. Itulah yang akhirnya menyebakan konsumsi rumah tangga masih terkontraksi hingga minus 4 persen.

“Saya khawatir pola ini akan berlanjut di kuartal IV, karena tidak cukup ada suatu faktor yang bisa mendorong masyarakat untuk berbelanja lebih banyak lagi di kuartal IV nanti. Apalagi vaksin yang dijanjikan bisa didistribusikan di bulan November ini ternyata meleset dari target awal,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply