Membangkitkan Desa Wisata Terdampak Pandemi

Membangkitkan Desa Wisata Terdampak Pandemi


VIVA – Suasana desa yang sepi dari pengunjung luar daerah selama masa pandemi Covid-19 sangat terasa di desa wisata. Pembatalan kunjungan calon wisatawan ke desa wisata mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.

Warga yang biasa bekerja dan beraktivitas di desa wisata telah kehilangan pekerjaan mereka. Kemandirian desa-desa wisata, perlahan meredup. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat dari Potensi Desa (Podes) 2018 bahwa terdapat 1.734 desa wisata di seluruh Indonesia.

Desa wisata tersebut tersebar di masing-masing kepulauan. Pulau Jawa-Bali menempati posisi paling tinggi dengan 857 desa wisata. Kemudian diikuti dengan Sumatera sebanyak 355 desa, Nusa Tenggara 189 desa, Kalimantan 117 desa. Selain itu, Pulau Sulawesi juga tercatat sebanyak 119 desa wisata, Papua 74 desa, dan Maluku terdapat 23 desa. Apakah desa wisata bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19?

Kemandirian desa wisata memang diuji dalam masa pandemi ini. Desa wisata yang menggantungkan ekonomi terutama dari pemasukan kegiatan wisata kini harus mengatur ulang strategi untuk dapat tetap bertahan dengan kemandirian yang dibentuk.

Satu kekuatan yang menjadi keuntungan dari desa wisata adalah tidak hilangnya pekerjaan utama penduduk setempat. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya masyarakat di desa wisata yang masih memiliki pekerjaan utama di luar sektor pariwisata.

Salah satu contoh di desa wisata Nglanggeran di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa wisata ini sebelum serangan pandemi Covid-19 meraup omset hingga miliaran rupiah dalam setahun, dengan ratusan ribu pengunjung.

Desa Nglanggeran kemudian menutup akses bagi para pengunjung tahun lalu, meskipun kemudian mulai beroperasi lagi dengan beberapa pembatasan. Masyarakat di Desa Nglanggeran di sela waktu tersebut rutin melaksanakan “Aksi Reresik Wisata Jogja” yaitu kegiatan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan destinasi wisata dan lingkungan rumahnya.

Masyarakat yang biasanya terlibat pariwisata kegiatan utamanya kembali ke pertanian, perkebunan, dan peternakan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI merasa optimis desa wisata akan bisa menjadi pandemic winner seiring dengan perubahan tren wisata pasca pandemi.

Wisatawan akan memilih destinasi yang mengedepankan rasa aman, nyaman, bersih, sehat dan terjaga keberlanjutan lingkungannya. Desa wisata direncanakan sebagai program unggulan untuk membangkitkan semangat kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, yang langsung menyentuh ekonomi masyarakat (Kemenparekraf, 30/April/2021).

Segmentasi pariwisata ke depan diyakini akan lebih mengarah kepada personalize, customize, localize, dan smaller in size. Personalize diartikan wisatawan akan lebih memilih jenis pariwisata pribadi atau hanya bersama keluarga.



Source link

Leave a Reply