Limbah Nuklir Fukushima yang Dibuang ke Laut Bisa Merusak DNA Manusia

Limbah Nuklir Fukushima yang Dibuang ke Laut Bisa Merusak DNA Manusia



Liputan6.com, Fukushima – Air yang terkontaminasi dari pembangkit nuklir Fukushima Jepang mengandung zat radioaktif yang berpotensi merusak DNA manusia, menurut laporan Greenpeace.

Klaim dari kelompok kampanye lingkungan tersebut mengikuti laporan media yang melaporkan bahwa pemerintah Jepang berencana untuk melepaskan air ke laut.

Banyak ilmuwan mengatakan risikonya rendah tetapi beberapa pemerhati lingkungan menentang gagasan itu.

Pemerintah Jepang belum menanggapi laporan Greenpeace.

Selama bertahun-tahun, Jepang telah memperdebatkan apa yang harus dilakukan dengan lebih dari satu juta ton air yang digunakan untuk mendinginkan pembangkit listrik Fukushima yang meleleh pada tahun 2011 setelah dilanda tsunami besar.

Ruang untuk menyimpan cairan –termasuk air tanah dan hujan yang merembes ke pabrik setiap hari– akan terisi penuh pada tahun 2022.

Pemerintah mengatakan, sebagian besar isotop radioaktif telah dihilangkan menggunakan proses penyaringan yang kompleks, tetapi satu isotop, tritium, tidak dapat dihilangkan.

Minggu lalu, media Jepang melaporkan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk mulai membuang limbah air itu ke laut mulai tahun 2022. Berdasarkan rencana yang dilaporkan, air akan diencerkan terlebih dahulu di dalam pabrik dalam proses yang memakan waktu beberapa dekade.

Dalam laporannya, Stemming the tide 2020: The reality of the Fukushima radioactive water crisis yang dirilis pada Jumat 23 Oktober 2020, Greenpeace mengklaim air yang terkontaminasi tersebut mengandung “tingkat karbon-14 yang berbahaya”, zat radioaktif yang dikatakan memiliki “potensi untuk merusak DNA manusia”.

Kelompok itu menuduh pemerintah menyarankan air itu “diolah” sehingga terkesan “hanya mengandung tritium”.

Pemerintah mengatakan, belum ada keputusan yang dibuat. Tetapi, para pengamat memperkirakan keputusan akan diumumkan pada akhir bulan.

Kelompok lingkungan telah lama menyatakan penolakannya untuk melepaskan limbah air PLTN Fukushima ke laut. Dan kelompok nelayan membantahnya, dengan mengatakan konsumen akan menolak untuk membeli produk dari daerah tersebut.

Namun beberapa ilmuwan mengatakan bahwa air akan cepat mencair di Samudra Pasifik yang luas, dan tritium memiliki risiko rendah bagi kesehatan manusia dan hewan.

 



Source link

Leave a Reply