Kolonialisme Israel dan Dana Militernya

Kolonialisme Israel dan Dana Militernya


VIVA – Pada hari pertama lebaran warga Palestina dibombardir oleh pasukan Israel. Baik dari serangan udara, maupun dari serangan daratnya. Pasukan Israel yang begitu liar sudah memakan korban sekitar 109 orang, termasuk 28 anak-anak yang turut jadi korban.

Selebihnya ada 580 warga yang terluka. Koordinator Medis MSF, Dr Natalie Thurle, berbagi pengalamannya melaui tulisan saat merawat orang-orang Palestina yang terluka. Dia menuliskannya di Aljazeera. Dr. Natalie Thurle merawat gadis kecil berusia 12 tahun yang terkena peluru karet di pahanya.

Luka memar itu sebesar kepalan tangan pria dewasa. Anak itu ditembak saat dia berjalan bersama ibunya di dekat rumahnya. Dokter itu kemudian membawanya ke rumah sakit untuk dirongent, memastikan apakah mengalami patah tulang.

Rekan kerja Dr Natalie Thurle, Andy, menjahit wajah bocah lelaki berusia 14 tahun. Bocah itu ditembak dengan peluru karet hampir menganai matanya, kurang dari satu senti meter dari mata kirinya. Jika mengenai mata, ada kemungkinan mengalami kebutaan.

Warga Palestina tak menikmati hari-hari kebahagiaan sebagaimana warga Muslim lainnya pada Idul Fitri yang disambut dengan suka cita. Hal itu diucapkan sendiri oleh Warga Palestina sebagaimana laporan Aljazeera, “Kami di Gaza dan seluruh Palestina tidak merasakan kegembiraan Idul Fitri ini…” kata Moe’n Ahmad.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin saling berkomunikasi menanggapi serangan pasukan Israel. “Dewan Keamanan PBB harus campur tangan dengan ‘pesan yang tegas dan jelas’ kepada Israel,” kata Erdogan.

Michigandayli.com menuliskan, Pimpinan Pemerintah Pusat Mahasiswa (CSG) Universitas Michigan mengutuk kekejaman Israel, “Selama 73 tahun terakhir, kekerasan ini telah meluas, merugikan, dan membunuh warga asli Palestina. Ini bukan ‘konflik’, tapi simbol dari kolonialisme Israel, pembersihan etnis, dan apartheid.”

Sebelumnya pada Sabtu lalu, menjelang malam lailatul qodar, Polisi Israel juga melukai jemaah di Masjidil Aqsa. Diperkirakan saat itu jemaah sebanyak 90.000, korban yang terluka 90 orang.

Para jemaah pun melawan dengan melempar batu ke polisi yang bersenjatakan meriam air, meriam setrum, dan gas air mata. Teror itu bermula ketika Israel merebut Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza pada perang tahun 1976.

Para pemimipn negara di berbagai belahan dunia pun menganggap pemukiman yang dibangun Israel di sana dan di seluruh Tepi Barat itu ilegal. Israel-Yahudi terus meluaskan wilayahnya yang mengorbankan warga Palestina.

Mulai pembongkaran rumah, pelecehan yang dilakukan Polisi setiap hari. Di Sheikh Jarah, warga Israel dan Polisi juga menyerang warga Palestina di sana. Keadaan semakin memanas, mengutip dari Aljazeera, pasukan bersenjata sayap Hamas, Brigade al-Qasam mengancam Israel melalui juru bicaranya Abu Obeida, “Lebih mudah bagi kami daripada minum air,” katanya setelah meluncurkan roket ke Dimona, Tel Aviv, dan kota-kota Israel lainnya.

“Kami menyakinkan orang-orang, bahwa kami memiliki banyak roket, dan serangan rudal yang telah mengungkapkan kerapuhan musuh,” kata dia lagi, “yang membedakan pertempuran ini adalah solidaritas rakyat Palestina di seuluruh negeri dan dukungan bulat mereka untuk perlawanan.”

Laporan resmi yang diliris Pemerintah Australia yang dikutip inews.id, Brigade al-Qasam secara resmi didirikan untuk membantu kemampuan militer Hamas. Awalnya, pasukan itu diorganisasi secara rahasia. Pada 2007, sejak Hamas menguasai Gaza, Brigade al-Qasam berkembang.

Tujuan utamanya adalah penyatuan Israel di wilayah Palestina di bawah pemerintahan Islam. Brigade al-Qasam mengadopsi taktik gerilya dalam upaya mengalahkan pasukan Israel. Yang paling mengerikan adalah mereka mengadopsi penggunaan bom bunuh diri, menggambarkan mereka sebagai ‘F16’ rakyat Palestina.

Tampaknya ancaman pasukan jihad itu tak main-main, mengingat juga Komandan Hamas, Baseem Issa, telah gugur akibat serangan udara Israel pada Rabu kemarin. Bagi warga Palestina dan pasukan sayap militer tersebut tentu perang melawan pasukan Israel adalah perang jihad.



Source link

Leave a Reply