Jaksa Ungkap Siasat Irjen Napoleon Hapus Nama Djoko Tjandra dari DPO

Jaksa Ungkap Siasat Irjen Napoleon Hapus Nama Djoko Tjandra dari DPO



Jakarta

Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra sempat membuat heboh lantaran bisa leluasa masuk ke Tanah Air dengan anggapan saat itu masih berstatus sebagai buronan. Namun nyatanya ada ‘tangan’ lain yang membantu Djoko Tjandra melenggang saat itu.

Adalah duet 2 jenderal yaitu Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo. Keduanya didakwa dalam berkas perkara terpisah berkaitan dengan dugaan penerimaan suap dari Djoko Tjandra.

Irjen Napoleon datang langsung ke ruang sidang sebagai terdakwa. Dakwaan Irjen Napoleon dibacakan lebih dulu, sementara dakwaan untuk Brigjen Prasetijo Utomo dibacakan kemudian.

“Bahwa terdakwa Irjen Napoleon Bonaparte telah melakukan atau turut serta melakukan dengan Brigjen Prasetijo Utomo masing-masing selaku pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima uang SGD 200 ribu dan sejumlah USD 270 ribu dari Joko Soegiarto Tjandra,” ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2020).

“Brigjen Prasetijo Utomo menerima uang sejumlah USD 150 ribu,” imbuh jaksa.

Jaksa mengatakan pemberian suap itu berkaitan dengan permintaan Djoko Tjandra agar namanya terhapuskan dari red notice Interpol. Kala itu Djoko Tjandra merupakan buron kelas kakap yang telah kabur sejak 2009 terkait perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali.

Djoko Tjandra saat itu ingin mengajukan Peninjauan Kembali (PK) perkaranya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengharuskan dirinya datang secara fisik ke pengadilan. Untuk itu Djoko Tjandra meminta bantuan rekannya bernama Tommy Sumardi untuk mengurus perihal penghapusan red notice Interpol hingga daftar pencarian orang (DPO) itu.

Tommy Sumardi kemudian bertemu dengan Brigjen Prasetijo Utomo, saat itu masih menjabat sebagai Kepala Biro Koordinator Pengawas (Karo Korwas) PPNS Bareskrim Polri. Dari Prasetijo lantas Tommy Sumardi dikenalkan ke Irjen Napoleon.

Ketiganya lalu bertemu dan disepakati adanya imbalan untuk memenuhi keinginan Djoko Tjandra itu. Berikut langkah Irjen Napoleon seperti tertuang dalam surat dakwaan:

1. Pada 28 April 2020, Djoko Tjandra memberikan uang ke Tommy Sumardi SGD 200 ribu untuk diserahkan ke Napoleon. Keesokan harinya Napoleon menerima lagi USD 100 ribu dari Djoko Tjandra.

Setelah menerima SGD 200 ribu dan USD 100 ribu, Napoleon memerintahkan Kombes Tommy Aria Dwianto untuk membuat surat ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi. Isi surat itu mengenai pemberitahuan kalau database DPO di Interpol sedang mengalami pembaharuan dan menyatakan ada data DPO yang diajukan Divhubinter Polri ke Ditjen Imigrasi sudah tidak dibutuhkan lagi.

“Isi surat tersebut pada pokoknya menginformasikan bahwa Sekretariat NCB Interpol Indonesia pada Divhubinter Polri sedang melakukan pembaharuan sistem database Daftar Pencarian Orang (DPO) yang terdaftar dalam Interpol Red Notice melalui jaringan I-24/7, dan berkaitan dengan hal dimaksud diinformasikan bahwa data DPO yang diajukan oleh Divhubinter Polri kepada Ditjen Imigrasi sudah tidak dibutuhkan lagi,” kata jaksa.



Source link

Leave a Reply