HEADLINE: Potensi Klaster Covid-19 Kerumunan Massa di Petamburan, Penanganannya?

HEADLINE: Potensi Klaster Covid-19 Kerumunan Massa di Petamburan, Penanganannya?



Liputan6.com, Jakarta – Ribuan orang berkumpul di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat, Sabtu malam 14 November 2020 lalu. Mereka yang datang dari berbagai daerah di Jakarta itu bergabung dan menyemut untuk menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad dan pernikahan Syarifah Najwa Shihab, putri dari pimpinan FPI, Muhammad Rizieq Shihab.

Usai pernikahan Najwa dengan Irfan Al Idrus rampung, massa kemudian mengikuti rangkaian Maulid Nabi. Lantunan salawat demi salawat yang dipandu tokoh agama pun diikuti para jemaah dengan khusyuk. Hingga Minggu dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB, massa pun perlahan mulai membubarkan diri usai mendengarkan ceramah dari Rizieq Shihab.

Namun begitu, usai jemaah bubar, muncul kekhawatiran tersendiri yang menghantui masyarakat. Yaitu adanya potensi penularan covid-19, yang saat ini sedang ganas-ganasnya menyerang Bumi Pertiwi. Bahkan tak hanya di Petamburan, kerumunan saat di Bandara Soekarno-Hatta juga disebut bisa menimbulkan penyebaran virus membahayakan tersebut.

“Jadi tetap ada risiko ya, sejak ada penjemputan di Soekarno-Hatta, sampai akhirnya ada acara maulid dan resepsi pernikahan dari anaknya Habib Rizieq,” kata Epidemiologi dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (20/11/2020).

Laura mengaku belum dapat memastikan apakah kerumunan massa dalam acara Rizieq Shihab tersebut akan menimbulkan klaster atau tidak. Karena itu, pemerintah harus meningkatkan kapasitas 3 T, yaitu tracing, testing dan treatmen untuk memastikan hal tersebut.

“Saya rasa pemerintah kita perlu meningkatkan kapasitas 3 T-nya, jadi tracing, testing, treatment itu harus dikuatkan,” kata dia.

“Kan enggak tahu kalau itu akan menimbulkan klaster atau tidak ketika 3 T tidak dilakukan. Jadi kalau 3 T dilakukan nanti akan ditemukan apakah betul ada klaster dari kegiatan Habib Rizieq, dan juga harapan utamanya tidak hanya menemukan klaster, tapi kemudian bagaimana mengendalikan penyebaran dari klaster tadi,” jelas Laura. 

Dia mengungkapkan, klaster akan muncul jika didapatkan satu kasus positif yang setelah dilacak kontak erat, ternyata juga positif. Kemudian dari kontak erat yang ditemukan itu akan tracing lagi. “Nah kalau itu ditemukan dalam kelompok besar dari kontak erat, bisa dipastikan akan muncul klaster,” ujar dia.

Saat ini, lanjut Laura, baru ditemukan kasus dari Lurah Petamburan Setiyanto yang dinyatakan positif Covid-19. Kalau sudah ditemukan kasus positif, kata dia, mau enggak mau harus dilakukan tracing. Dari tracing ini akan kelihatan apakah betul ada klaster dari kegiatan acara maulid Rizieq Shihab atau tidak.

“Kalau enggak bisa dilakukan secara massal, mungkin bisa dilakukan secara random,” ucap dia.

Sementara itu, Ketua Satgas Kewaspadaan dan Kesiagaan Covid- 19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengaku prihatin dengan adanya kerumunan yang terjadi di masyarakat. Karena keramaian itu dikhawatirkan bisa bertambah banyak di kota-kota lainnya.

Namun begitu, Ia menilai massa yang berkumpul dalam acara Maulid Nabi di Petamburan tersebut lebih banyak jumlahnya bila dibandingkan dengan kerumunan massa yang berdemo menolak UU Cipta Kerja.

“Gini, lebih banyak mana kerumunan demo dan Petamburan? Kalau demo lebih banyak, maka Petamburan tak terlalu meningkat. Ada yang saya khawatirkan peningkatan luar biasa itu di pabrik-pabrik, lalu pesantren, gereja ada di Medan dan Bandung, lalu secapa, kantor-kantor. Jadi intinya di ruangan tertutup itu bahaya,” ujar dia kepada Liputan6.com, Jumat (20/11/2020).

Jadi sekarang, kata Zubairi, lebih baik disurvei orang-orang yang menghadiri acara Rizieq Shihab tersebut. Kenaikan angka positif covid-19 imbas dari kegiatan itu, kata dia, akan dapat terlihat dalam tenggat waktu dua pekan ke depan.

“Data pernikahan (putri Rizieq Shihab) kita harus tunggu dua minggu lagi. Jadi kalau data di Jakarta meningkat tajam, ya bisa dipastikan akibat kemarin di Petamburan. Kalau masih di bawah angka peningkatan Indonesia, ya nanti dulu ambil kesimpulannya,” ujar dia.

Data yang diterima Satgas, per Kamis sore 19 November 2020, untuk wilayah Petamburan Jakarta Pusat telah dilakukan swab terhadap 15 orang. Hasilnya ada 7 orang positif Covid 19, termasuk Lurah Petamburan.

Sedangkan pada Jumat sore (20/11/2020) data mencatat, hasil swab antigen untuk Kluster Mega Mendung adalah yang diperiksa 559 orang, yang positif ada 20 orang. Laporan lain, terdapat 50 orang positif Covid 19 yang mayoritas berdomisili sekitar Tebet.

Untuk itu, Ketua Satgas Doni Monardo berharap kerja sama semua komponen masyarakat di berbagai daerah terutama di DKI Jakarta khususnya para Ketua RT dan Ketua RW untuk menyampaikan pesan kepada keluarga atau pun mereka yang kemarin ikut beraktivitas, mulai dari penjemputan di Bandara Soekarno Hatta, kegiatan Maulid Nabi di Tebet, dan juga di Mega Mendung, serta acara terakhir di Petamburan.

Mereka diminta dengan kesadaran sendiri untuk melaporkan diri kepada Ketua RT dan Ketua RW setempat.

“Pemeriksaan di Puskesmas tanpa dipungut biaya. Pemeriksaan ini sangat penting agar diketahui lebih dini. Jika ada yang positif covid-19 bisa segera isolasi dan tempat isolasi disiapkan pemerintah. Silakan dengan kesadaran dan keikhlasan memeriksa diri ke Puskesmas, demi memutus mata rantai penularan untuk keselamatan bersama,” himbau Doni.

Doni menambahkan, pihaknya telah menyalurkan 2.500 swab antigen ke seluruh puskesmas yang berada di daerah-daerah yang berpotensi terjadi peningkatan kasus di DKI, Banten, dan Jabar.



Source link

Leave a Reply