Eri Cahyadi Janji Tak Pilih Kasih Perlakukan Sekolah Swasta dan Negeri

Eri Cahyadi Janji Tak Pilih Kasih Perlakukan Sekolah Swasta dan Negeri


VIVA – Calon Wali Kota Surabaya nomor urut satu, Eri Cahyadi mengaku tak ingin ketimpangan antara sekolah negeri dengan swasta di Kota Surabaya semakin melebar. Hal itu jadi salah satu janjinya dalam masa kampanye pilkada saat ini.

Karena itu, sekolah-sekolah swasta selama masa kepemimpinannya, jika terpilih, akan menjadi fokus prioritas. Tak ada pilih kasih antara negeri dan swasta karena semua siswanya adalah anak-anak Kota Surabaya. 

“Bagaimana pun, anak-anak kita yang sedang bersekolah saat ini adalah masa depan Surabaya. Maka pemisahan antara negeri dan swasta hanya akan mengakibatkan ketimpangan kualitas SDM Surabaya di masa depan. Maka kita antisipasi jangan sampai itu terjadi,” kata Eri saat bertemu kepala sekolah SMP swasta se-Surabaya di Nur Pacific, dalam keterangan tertulis diterima Sabtu, 10 Oktober 2020.

Baca juga: Polda Metro Tetapkan 87 Tersangka Demo Ricuh Omnibus Law

Eri mengatakan, saat dia masih menjabat kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, sudah merintis pemberian tunjangan untuk guru-guru swasta yang belum menerima tunjangan profesi dari pemerintah pusat. Dengan minimal dua tahun menjalani profesi sebagai guru, Pemkot Surabaya berencana memberi senilai Rp2 juta per tahun. 

“Kualitas guru juga harus disamakan antara negeri dan swasta, ada sertifikasi. Tapi para guru juga harus mudah mengurusi semuanya, berkas dan lain-lain. Nantinya akan ada aplikasi khusus untuk itu. Kalau kualitas guru naik, pasti tunjangan meningkat,” ungkap alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu.

Mekanismenya kata Eri, dengan menambah Bopda alias Bantuan Operasional Pendidikan Daerah. Dengan penambahan Bopda, Pemkot Surabaya akan mampu mensubsidi sekolah swasta. Tak hanya pada SDM, tapi juga pada fasilitas belajar mengajar.

“Jadi misalnya ada butuh bantuan komputer, lab, biar sekolahnya semakin berkualitas, sekolah swasta per area bisa kumpul, menentukan sekolah mana yang diprioritaskan mendapat bantuan terlebih dulu. Nantinya pasti akan merata. Jangan sampai sekolah negeri punya komputer, yang swasta tidak. Swasta tak boleh dianaktirikan, harus imbang,” ujar Eri. 

Ia juga mengusulkan sistem baru pemberian beasiswa dengan skema anak asuh dengan orang tua asuh dari kalangan pengusaha. Setiap pengusaha Surabaya minimal memiliki lima anak asuh. Dengan jumlah pengusaha di Kota Pahlawan yang begitu banyak, kata Eri, tidak akan ada lagi anak putus sekolah. 

Salah satu perwakilan guru dari SMP Dharma Wanita Surabaya Galuh Sukarno menyatakan, visi dan misi Eri mampu menyentuh hati para guru di Surabaya. Ini karena visi misinya tak hanya berputar pada janji-janji, tapi sebagian besar sudah dilakukan dan dirintis Eri saat membantu Risma di Pemkot Surabaya. 

“Yang diharapkan para guru adalah kemudahan, kelayakan, dan kesejahteraan hidup. Pak Eri peduli profesi kami, bisa jadi fasilitator, penengah, dan tak ragu memberi bantuan. Meskipun sekolah swasta, tapi Pak Eri tak pernah pilih kasih. Karena menurutnya semuanya sama, untuk kemajuan pendidikan Surabaya,” kata Galuh. 



Source link

Leave a Reply