Electoral College Jadi Penentu Kemenangan, Begini Rumitnya Pilpres AS

Electoral College Jadi Penentu Kemenangan, Begini Rumitnya Pilpres AS



Jakarta

Pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat 2020 akan dimulai dalam beberapa jam ke depan. Tak bisa dipungkiri, pemilu AS selalu menyedot perhatian dunia. Negara-negara di dunia menantikan siapa yang akan menang dalam pertarungan ini. Apakah Donald Trump dari Partai Republik akan kembali menang dan menjabat untuk periode kedua? Atau apakah Joe Biden dari Partai Demokrat akan berhasil mengalahkan Trump?

Pilpres AS yang akan digelar pada Selasa, 3 November 2020 ini, memang menarik untuk diikuti. Terlebih lagi, sosok capres dari Republik dan Demokrat, Trump dan Biden diyakini akan bertarung sengit untuk memperebutkan kursi Gedung Putih.

Hasil polling-polling terbaru di AS, setidaknya menurut enam polling, menunjukkan bahwa Biden unggul atas Trump. Apakah hasil polling ini akan menjadi kenyataan? Karena jika melihat dari pilpres AS tahun 2016 silam, saat itu hasil berbagai polling dan proyeksi sejumlah media AS menunjukkan capres dari Partai Demokrat, Hillary Clinton akan memenangi pilpres dengan selisih perolehan suara yang sangat tipis dari rivalnya, Donald Trump. Namun, ternyata dalam kenyataannya, Trump berhasil membuat Hillary gagal mengukir sejarah sebagai presiden perempuan pertama di negeri adikuasa itu.

Namun siapapun yang akan memenangi pilpres 2020 ini, berarti telah menempuh jalan panjang untuk menjadi penguasa Gedung Putih, mengingat sistem pilpres AS yang rumit, sama sekali jauh dari sederhana. Seperti dirangkum detikcom, Selasa (3/11/2020) dari berbagai sumber, demikian gambaran rumitnya pilpres AS:

Tidak Langsung

Meski sama-sama negara demokrasi, AS memiliki sistem pilpres yang berbeda dengan Indonesia. Warga AS tidak memilih secara langsung presiden mereka, melainkan melalui keterwakilan yang disebut electoral college.

Di hari pemungutan suara pada 3 November, rakyat Amerika akan memberikan suara mereka ke pasangan capres-cawapres yang namanya tercantum di surat suara. Namun suara yang mereka berikan tidak langsung masuk ke pasangan calon tersebut, melainkan dikonversi menjadi electoral college.

Electoral college adalah kumpulan individu (disebut elector) yang nantinya akan memiliki kewenangan untuk memilih presiden. Jadi ketika di hari pemungutan suara seorang warga AS memilih capres A, secara teknis sebenarnya dia sedang memilih elector yang akan dia pasrahi untuk memilih A di sidang electoral college.

Pemberian suara oleh warga disebut popular vote, sementara pemberian suara oleh elector disebut electoral vote. Kedua istilah itu kerap membuat bingung mereka yang kurang familiar dengan sistem pilpres di AS.

Masing-masing capres/partai menunjuk elector yang nantinya akan menduduki electoral college yang mereka menangkan di tiap negara bagian. Nama elector bisa tercantum di surat suara (di bawah nama capres/cawapres) dan bisa juga tidak, tergantung aturan masing-masing negara bagian. Biasanya orang yang menduduki posisi elector adalah pemimpin partai, orang yang memiliki kedekatan dengan kandidat, atau mereka yang ditunjuk oleh pemerintah negara bagian.

Perlu dicatat bahwa electoral college tidak sama dengan MPR di Indonesia, dan elector bukan merupakan anggota Senat atau House of Representative (DPR). Keberadaan electoral college adalah bentuk kompromi antara pemilihan langsung oleh rakyat dengan pemilihan oleh Kongres (MPR). Karena tugasnya hanya memilih presiden, electoral college bersifat ad hoc dan langsung dibubarkan begitu tugasnya selesai (umurnya hanya satu hari).

Tonton video ‘Kalah dari Biden di 6 Survei, Trump: Kami Percaya Angka Real’:

[Gambas:Video 20detik]



Source link

Leave a Reply