Cek Fakta: Tidak Benar Video Erdogan Tolak Jabat Tangan Macron karena Karikatur Nabi Muhammad SAW

Cek Fakta: Tidak Benar Video Erdogan Tolak Jabat Tangan Macron karena Karikatur Nabi Muhammad SAW


Cek Fakta Liputan6.com menelusuri video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW.

Penelusuran dilakukan menggunakan situs berbagi video YouTube dengan memasukkan kata kunci “erdogan meet putin, merkel, and macron”.

Hasilnya terdapat cuplikan video serupa yang diunggah Channel YouTube Ruptly pada 27 Oktober 2018 lalu. Video berdurasi 2 jam 17 menit itu berjudul “LIVE: Erdogan, Putin, Macron, Merkel give statement following Syria summit“.

Gambar Tangkapan Layar Video dari Channel YouTube Ruptly

Turkish President Recep Tayyip Erdogan, Russian President Vladimir Putin, French President Emmanuel Macron and German Chancellor Angela Merkel give a joint press statement after a summit to discuss the ongoing situation in Syria, in Istanbul on Saturday, October 27.

The summit, which is the first of its kind, takes place after Russia and Turkey reached a deal on September 17 to create a demilitarised buffer zone around the region of Idlib, which is home to 3.5 million people, in an attempt to prevent further fighting in the last major militant-held bastion in the country.

The four leaders are expected to extensively discuss the ceasefire, as well as an effective implementation of a political settlement in accordance with United Nations Security Council Resolution 2254, which was established in December 2015,” tulis Channel YouTube Ruptly.

Gambar Erdogan yang hanya bersalaman dengan Merkel dan Putin terlihat pada 2:15:47. Namun jika video itu diteruskan maka tampak Erdogan memegang tangan Macron saat sesi foto bersama. Momen tersebut bisa dilihat pada 2:16:16.

Gambar Tangkapan Layar Video dari Channel YouTube Ruptly

Liputan6.com juga menemukan artikel yang menjelaskan mengenai pertemuan empat pemimpin negara tersebut. Adalah artikel berjudul “Turki Gelar KTT dengan Rusia, Jerman, Prancis Bahas Suriah” yang dimuat situs cnnindonesia.com pada 28 Oktober 2018.

Jakarta, CNN Indonesia — Para pemimpin Turki, Rusia, Prancis, dan Jerman menggelar konferensi tingkat tinggi di Istanbul pada Sabtu untuk mencari solusi politik atas perang saudara di Suriah, termasuk untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan gencatan senjata yang sedang terancam di Idlib, wilayah terakhir yang dikuasai pemberontak.

Dilansir dari AFP, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk duduk bersama membicarakan konflik Suriah yang telah menewaskan 360.000 orang sejak 2011.

“Seluruh mata dunia tertuju pada kami hari ini… Saya berharap kami bisa bertindak dengan pemahaman yang tulus dan konstruktif, dan tidak gagal memenuhi harapan orang-orang,” kata Erdogan dalam sambutannya.

Konferensi tingkat tinggi ini digelar sehari setelah terbunuhnya tujuh warga sipil oleh pasukan pemerintah Suriah dalam pertempuran di barat laut provinsi Idlib. Menurut lembaga pemantau hak asasi manusia, jumlah korban itu tertinggi sejak gencatan senjata disepakati pada bulan lalu.

Rusia yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Turki yang mendukung pemberontak telah bersepakat menciptakan zona penyangga di sekitar Idlib, namun kekerasan semakin meningkat secara dramatis menjelang pertemuan para pemimpin negara tersebut.

Ini menjadi konferensi tingkat tinggi pertama yang melibatkan Jerman dan Prancis. Sebelumnya, Turki dan Rusia beberapa kali menggelar pertemuan dengan Iran yang selalu dicurigai oleh para pemimpin Barat.

Erdogan menggelar pertemuan singkat dengan Merkel, Putin, dan Macron sebelum KTT dimulai. Para pemimpin ini diharapkan membuat kesepakatan bersama menjelang konferensi pers yang digelar secara terpisah.

Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan pada Jumat bahwa tujuan utama KTT adalah untuk mengklarifikasi langkah-langkah yang akan diambil untuk sebuah solusi politik, dan untuk menentukan peta jalan.

Kepada kantor berita Turki, Anadolu, Kalin mengatakan penekanan utamanya adalah pembentukan komisi yang akan membuat konstitusi Suriah pascaperang, yang dipandang sebagai sebuah batu pijakan untuk menggelar pemilihan umum di negeri tersebut.

Sebelumnya, Damaskus telah menolak proposal pembentukan sebuah komite untuk membuat konstitusi baru yang digagas PBB.

 

 



Source link

Leave a Reply