Bola Ganjil: Mendahului Cruyff, Perjalanan Berliku Kubala Jadi Legenda Barcelona

Bola Ganjil: Mendahului Cruyff, Perjalanan Berliku Kubala Jadi Legenda Barcelona



Kubala melewatkan mayoritas musim berikutnya karena menderita tuberkulosis. Meski begitu, dia pulih tepat waktu untuk membantu Barcelona memenangkan tiga gelar yakni liga, Copa del Generalisimo, dan Copa Eva Duarte.

Kampanye selanjutnya Kubala gagal mempersembahkan trofi. Namun, pengaruhnya bagi klub semakin besar. Penampilan di lapangan menghipnotis penonton agar kembali ke stadion. Markas Barcelona saat itu, Les Corts, pun tidak lagi sanggup menerima suporter meski berkapasitas 60 ribu tempat duduk.

Manajemen klub pun mendirikan rumah anyar yang bisa menampung 99 ribu orang pada 1954. Camp Nou dibuka tiga tahun kemudian dan hingga kini masih tercatat sebagai stadion sepak bola terbesar di dunia. 

Pada awal kehadirannya, Camp Nou tidak banyak menyaksikan gelar. Semua berubah ketika Helenio Herrera tahun 1958. Dia mempersembahkan masing-masing dua gelar liga dan Piala Fairs, plus Copa del Generalisimo.

Namun, kedatangan Herrera jadi awal berakhirnya karier Kubala. Keduanya bentrok karena Herrera menekankan disiplin tinggi dengan Kubala merasa dirinya sebagai dewa. Herrera akhirnya mundur pada 1960.

Kubala kemudian lanjut memimpin Barcelona. Pada musim berikutnya, dia membawa klub masuk final Piala Champions meski usianya sudah memasuki pertengahan 30-an dengan lutut melemah karena cedera.

Sosok kelahiran Budapest ini berambisi memenangkan gelar yang belum mampu dimenangkan sepanjang kariernya. Sayang takdir berkata lain. Usaha Kubala mengenai tiang gawang pada final melawan Benfica dan Barcelona tumbang 2-3.



Source link

Leave a Reply