Banjir Kolosal Cilacap, Potret Empati Masyarakat dan Pemerintah yang Gagap

Banjir Kolosal Cilacap, Potret Empati Masyarakat dan Pemerintah yang Gagap



Dalam kesempatan tersebut, PKB Jateng dan Cilacap juga menyalurkan bantuan berupa sembako, makanan siap saji, air mineral, mi instan dan lain sebagainya. Bantuan didistribusikan merata mulai dari Cilacap timur hingga Cilacap barat.

Selain bantuan logistik, PKB juga menerjunkan relawan dalam bencana banjir dan longsor di dapur umum, distribusi, hingga relawan untuk turut membantu masyarakat memperbaiki tanggul yang jebol. Bersama masyarakat, Bagana, Banser, Ansor, dan warga NU, relawan melakukan aksi kemanusiaan.

Dia juga mengapresiasi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi lain yang berjibaku dalam penanganan banjir dan longsor ini. Mereka telah bekerja siang malam melakukan tanggap darurat, menyalurkan bantuan, mendirikan dapur umum, meski beberapa di antaranya terlambat.

Di titik itu pula, Syarif menyoroti kesiapan pemerintah dalam mitigasi, tanggap darurat, dan penanganan pascabencana. Melihat fakta di lapangan, pemerintah belum siap menghadapi bencana alam yang terjadi secara bersamaan atau kolosal, seperti yang terjadi di Cilacap kali ini.

“Bisa dimaklumi, ini adalah bencana kolosal. Sehingga pemerintah tidak siap, dan penanganannya pun tidak maksimal,” ujarnya.

Menurut dia, kekacauan sempat terjadi pada hari pertama dan kedua banjir. Salah satunya yakni dalam proses evakuasi. Pemerintah terkesan membiarkan warga terdampak banjir mencari pengungsian sendiri-sendiri.

Kata dia, lokasi dan jumlah pengungsi yang tak pasti itu memicu masalah berikutnya, yakni makanan untuk pengungsi. Pada hari pertama dan kedua, banyak posko pengungsian yang tak tersentuh bantuan pemerintah, meski sudah melaporkan melalui RT atau pemerintah desa.



Source link

Leave a Reply