Balada Imlek, Ikan Dewa dan Sumur Geothermal Gunung Slamet

Balada Imlek, Ikan Dewa dan Sumur Geothermal Gunung Slamet



Bing membuat pusat pembibitan ikan dewa, persis seperti habitatnya di sungai pegunungan. Indukan dipelihara di kolam air deras. Ada satu space berundak yang menyerupai air terjun pendek di sungai-sungai pegunungan. Ikan yang hendak memijah, secara naluriah, akan melompat ke atas air terjun tersebut. Air harus tersedia melimpah sepanjang tahun, dan jernih.

Tapi tak ada ikan siap konsumsi tahun ini. Sebab, selama dua tahun masa pemulihan, ia lebih berkonsentrasi menyiapkan indukan. Ikan dewa adalah jenis ikan besar, namun dengan pertumbuhan yang relatif lambat. Untuk mencapai bobot konsumsi, ikan ini butuh waktu kisaran tiga tahun pemeliharaan. Karenanya, harga jual ikan bersisik kuning keemasan ini pun tinggi.

Rentang harga ikan konsumsi Rp700 ribu hingga Rp1,5 juta per kilogram. Semakin besar ikannya, semakin mahal. Ikan di atas dua kilogram, dijual dengan harga Rp1,5 juta. Pada masa lalu, ikan dewa hanya dikonsumsi oleh para raja di Jawa. Bahkan ada mitos, masyarakat biasa akan celaka jika mengonsumi ikan ini.

“Saya mendapat kompensasi kerugian satu tahun. Tapi nilainya tidak sebanding dengan kerugian akibat delay pembiakan,” dia mengungkapkan.

Mengantisipasi bencana alam di masa mendatang, Bing menggandeng masyarakat di sekitar Karangtengah dan sekitarnya untuk pembesaran benih. Dia membangun plasma. Ikan ukuran kecil itu disebar ke wilayah-wilayah lain dengan sistem kemitraan. Dia berharap, ketika terjadi bencana alam serupa di masa mendatang, kerugian bisa dikurangi karena tak berada di satu lokasi.

Agus Sulistiyanto, Sekretaris Desa Karangtengah menyebut dampak eksplorasi PLTP Gunung Slamet berangsur reda. Sawah yang tadinya terdampak sedimen lumpur dan pasir sudah kembali subur. Namun, akibat banjir yang membawa air keruh itu, kini kolam di Karangnangka semakin ciut. Disposal lereng Gunung Slamet melalui Sungai Prukut membuat banyak kolam tertutup sedimen.

Kolam beralih fungsi jadi sawah, dan bahkan ada yang diuruk jadi pekarangan. Luasan sawah terdampak 250 hektare. Kolam ikan, kata Agus, diperkirakan hanya tersisa sekitar 4-5 hektare saja, meski data ini masih perlu diverifikasi di lapangan.

Dampak eksplorasi PLTP rupanya tak hanya behenti di situ, pariwisata. Dua Objek wisata yang saat itu beroperasi adalah air terjun legendaris, Curug Cipendok dan Karang Panginyongan. Kunjungan wisatawan merosot. Mereka ogah mampir karena Curug Cipendok kotor dan keruh. Dampak jadi lebih panjang karena pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 lalu.

Banyak UKM yang gulung tikar karena memang mengandalkan kunjungan wisatawan. Dari jumlah penduduk 10 ribu jiwa lebih, terbesar adalah petani yang berjumlah 3.000 jiwa lebih. Pelaku wisata berjumlah 50 orang, dengan tambahan pelaku usaha yang terhubung erat dengan wisata, lebih dari 200 orang.

“Kalau desa tidak mendapat kompensasi. Yang mendapat kompensasi kelompok air bersih, petani, pemilik kolam. Jumlahnya saya tidak tahu persis. Mereka bermusyawarah sendiri. Kalau sedang ketemuan, saya keluar. Takutnya dikira ada kong-kalikong antara pemdes dengan PT SAE,” kata Agus.

 



Source link

Leave a Reply