1.454 Perawat di Jawa Timur Terinfeksi COVID-19, Terbanyak dari Surabaya

1.454 Perawat di Jawa Timur Terinfeksi COVID-19, Terbanyak dari Surabaya



Prof Nursalam menuturkan, ada beberapa faktor yang mendorong jumlah perawat terpapar COVID-19 makin banyak. Pertama, intensitas waktu lebih lama dengan pasien juga turut pengaruhi terpapar COVID-19.

“Perawat satu-satunya profesi yang terus berinteraksi dengan pasien 24 jam, profesi lain paling 5 menit, 10 menit dalam 24 jam. Selain melaksanakan tindakan keperawatan, juga melakukan tindakan, pemenuhan kebutuhan dasar misalkan menyuapi, membantu bab, mengganti pampers, semua tindakan itu dilakukan perawat,” ujar dia.

Kedua, faktor orang tanpa gejala. Hal ini seiring kasus COVID-19 ditemui di poli klinik dan puskesmas. “Lonjakan juga terjadi terpapar COVID-19 di poli klinik dan puskesmas. Ini karena banyak OTG, dan sama-sama tak tahu. Perawat dalam hal ini memakai standar APD level 3. Risiko besar bagi perawat itu sendiri,” ujar dia.

Ketiga, menurut Prof Nursalam, penularan COVID-19 juga bisa lewat airborne. Akan tetapi, sekitar 5-10 persen meski sudah memakai APD level 3.

“Risiko terpapar 5-10 persen meski pakai APD dengan sirkulasi kurang sesuai. Perawatan COVID-19 risiko besar. Selain itu, ada kelelahan, ketakutan, stres, pemicu beberapa stigma di masyarakat,” tutur dia.

Prof Nursalam menuturkan, ada sejumlah upaya dilakukan untuk mengurangi risiko terpapar COVID-19. Hal itu mulai dari pengaturan jadwal dinas. “Maksimal dalam 24 jam interaksi tidak boleh lebih dari 3 jam. Setelah itu langsung bergiliran,” ujar dia.



Source link

Leave a Reply